Saya Asli Orang Dayak Kalimantan Tengah lahir di
Palangkaraya ilmu ini saya dapat dari Barito Timur (Kalteng) kali ini saya mau
berbagi sedikit ilmu dayak.
Selasa, 12 April 2016
Kamis, 07 April 2016
Kumpulan Pamali di kalimantan Tengah / Indonesia
Pamali atau pantangan adalah hal-hal yang sering kita
dengar dari orang tua kita atau kakek/nenek kita. Pantangan tersebut tentunya
berawal dari banyaknya kasus yang terjadi karena melanggar pantangan tersebut yang
berakibat buruk pada kita atau orang lain. Percaya atau tidak itu teserah pada
kita masing-masing.
ARTI KEDUTAN PADA BAGIAN TUBUH
Semua ini hanya tafsiran dari para ahli paranormal saja
boleh percaya boleh tidak silahkan dibaca :
A.
Arti kedutan di sekitar kepala :
Kedutan pada ubun ubun kepala akan mendapat
kebahagiaan
Kedutan pada bagian kepala sebelah kanan akan sakit
Kedutan pada bagian kepala sebelah kiri akan
mendapati kemuliaan
Icedutan pada seluruh
kepala akan melihat yang keananehan ajal sudah dekatRabu, 24 Februari 2016
Kamis, 04 Juni 2015
Danau Tahai
Tahai adalah sebutan danau dari bahasa dayak Kalteng
sepertinya. Tahai ini berupa danau kecil yang terbentuk konon kabarnya
dikarenakan genangan air yang sudah lama akibat galian pasir. Selain itu Tahai
juga terbentuk dikarenakan bekas aliran sungai yang alurya jadi berubah,
sehingga terbentuk genangan air yang tidak mengikuti aluran sungai lagi.
Gambar
: Danau Tahai
Arboretum Nyaru Menteng
Gambar
: Arboretum Nyaru Menteng
Arboretum Nyaru Menteng adalah sebuah kawasan hutan
yang di dalamnya terdapat banyak spicies flora dan fauna, yang menjadi objek
wisata menarik di kota tersebut ,Di lokasi ini banyak terdapat koleksi
kehutanan dengan berbagai jenis seperti tanaman geronggang, meranti, cemara,
dan tampan ,terdapat juga proyek reintroduksi sekitar 200 ekor orang utan
Museum Balanga
Gambar
: Museum Balanga
Museum Balanga, adalah Museum milik Pemerintah
Provinsi Kalimantan Tengah, museum beralamat di Jalan Cilik Riwut Km 2,5
Palangkaraya, Lokasi Museum terletak ditepi jalan protokol, mudah untuk
didatangi oleh pengunjung baik itu dari arah palangkaraya maupun dari luar kota
palangkaraya.
Status Museum Balanga tadinya adalah Museum Daerah,
dan keberadaannya di kota Palangkaraya sudah ada sejak Tahun 1973 silam,
kemudian seiring dengan berjalannya waktu, pada Tahun 1990 status Museum
Balanga ditingkatkan menjadi Museum Provinsi
Museum dibuka untuk umum pada hari Senin sd Sabtu
dari pukul 07.00 sd 14.00 WIB (kecuali Hari Jumat sd pukul 10.30), sedangkan
pada Hari Minggu dan Hari Libur Nasional, Tutup .Pengunjung museum dikenakan
biaya masuk, tiket masuk Dewasa dan Mahasiswa 2.500 rupiah/orang, dan untuk
pelajar 1.000 rupiah/orang, untuk kunjungan rombongan, sebaiknya menghubungi
pihak museum sebelum hari kedatangan agar bisa mendapat pelayanan yang lebih
maksimal
Sejarah Muara teweh
Gambar:
Kota Muara Teweh
Ada yang perlu saya jelaskan lebih jauh di sini adalah bagaimana
asal muasal-muasal nama Muara Teweh itu sendiri. Seacara harfiah, Tumbang
berarti Muara dan Tiwei Artinya mudik dan juga identik dengan nama ikan kecil
Seluang Tiwei, yang biasanya selalu mudik ke sungai Barito setiap tahun. Sebagaimana
artinya, Tiwei yang berati mudik, maka Sungai Tiwei yang bermuara di Sungai
Barito, arusnya mudik melawan arus Sungai Barito dan kemudian baru balik
mengikuti arus ke selatan. Penyebutan Tumbang Tiwei yang kemudian menjadi Muara
Teweh terjadi karena pola sebutan penyeragaman kota se Kalimantan Tengah oleh
Belanda pada saat itu.
Sejarah pangkalan bun
Hari jadi Kabupaten Kotawaringin Barat tidak
dapat dilepaskan dari jejak sejarah Kerajaan Kotawaringin yang dibangun oleh
keturunan Raja Banjar. Bermula ketika Pangeran Adipati Antakusuma meninggalkan
kerajaan Banjar dengan tujuan kearah barat untuk mencari tempat dimana akan
didirikan kerajaan baru. Dengan restu Ayahnda dan Ibunda, Pangeran Adipati
beserta sejumlah pengawal dan beberapa perangkat kerajaan dengan perahu layar
bertolak menuju kearah Barat. Dalam perjalanan banyak tempat yang disinggahi,
antara lain : Teluk Sebangau, Pagatan Mendawai, Sampit, Kuala Pembuang hingga
akhirnya sampai ke Desa Pandau yang dihuni masyarakat suku Dayak Arut dibawah
kepemimpinan Demang Petinggi, di Umpang.
BAWI KUWU
konon sekitar abad ke-18, di sebuah kampung sekitarpertengahan
aliran Sungai Rungan tepatnya di Kelurahan Mungku Baru Kecamatan Rakumpit,
tinggallah Bawi Kuwu dan kedua orangtuannya. Ketika beranjak dewasa wanita
cantik itu dilarang orangtuannya untuk keluar rumah dan lebih banyak
menghabiskan waktunya di dalam kamar dengan dikawal dayang-dayang yang setia
mengawal dan menjaga hingga bertahun-tahun lamanya. Pada suatu ketika, kedua
orangtua Bawi Kuwu ingin pergi keladang lalu berpesan kepada dayang-dayang
untuk menjaga anak kesanyangan mereka itu di dalam rumah. tidak lama setelah
kedua orangtuannya itu pergi, tiba- tiba Bawi Kuwu merasakan kepanasan dan
ingin madi di Sungai Rungan yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka, tentu
para dayang yang mengawal Bawi Kuwu melarangnya untuk keluar rumah, apalagi
untuk pergi sendiri ke sungai.
SANAMAN MANTIKEI
Dahulu kala di dusun Kaleka Nusa Kuluk Riam Habambang, sebelah kiri mudik sungai Samba, hiduplah satu keluarga petani. Petani itu mempunyai seorang anak laki-laki bernama Tinjau. Pada suatu hari Tinjau pergi untuk mengantarkan makanan kepada ibu bapaknya di lading. Di tengah jalan, sekonyong-konyong Tinjau melihat seorang yang mirip ayahnya. Orang itu lalu mengajaknya berjalan ke suatu arah. Tinjau menurut saja, karena dirasanya tak salah mengikuti ayahnya sendiri. Mereka berdua berjalan terus hingga tiba pada sebuah jalan yang lebar dan bersih. Akhirnya sampai di sebuah betang (rumah panjang tradisional suku Dayak).
Tarian Suku Dayak Kalteng
Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan Suku Dayak
sebagai penduduk aslinya kaya dengan keanekaragaman seni dan budaya peninggalan
masa lalu. Satu dari kearifan khasanah budaya warisan nenek moyang tersebut
terkandung dalam ragam seni tarian.
Pekan lalu, Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka Raya
(LKD-PR) menggelar pentas tari garapan dan tradisional. Kegiatan ini merupakan
salah satu bentuk promosi kesenian daerah guna mendukung pengembangan potensi
wisata lokal.
Selasa, 02 Juni 2015
Mandau Terbang Dayak (Kalteng)
Pada saat terjadianya kerusuhan antar Etnis di
Sambas dan Sampit, banyak cerita berkembang tentang adanya fenomena Mandau Terbang
: (Mandau yang bisa terbang mencari sasaran sindiri, bisa memilih dan memenggal
leher musuh). Hal tersebut cukup menggetarkan dan membuat merinding siapapun
yang mendegar.Semua dikembalikan pada yang mendengar, boleh percaya boleh
tidak. Namun demikian banyak kesaksian yang menguatkan kebenaran akan fenomena
tersebut.
Apapun ceritanya harus digaris bawahi bahwa Mandau
adalah senjata tradisional Suku Dayak . Mandau telah menjadi Simbol kekuatan,
simbol keadilan, simbol persatuan dan sekaligus simbol kehidupan Suku Dayak.
Sumpit Beracun Dayak
Sumpit, Senjata Suku Dayak Yang Lebih Ditakuti Dari Peluru Pada zaman penjajahan di Kalimantan dahulu kala, serdadu Belanda bersenjatakan senapan dengan teknologi mutakhir pada masanya, sementara prajurit Dayak umumnya hanya mengandalkan sumpit. Akan tetapi, serdadu Belanda ternyata jauh lebih takut terkena anak sumpit ketimbang prajurit Dayak diterjang peluru.
Gambar: Sumpit Beracun
Penyebab yang membuat pihak penjajah gentar itu adalah anak sumpit yang beracun. Sebelum berangkat ke medan laga, prajurit Dayak mengolesi mata anak sumpit dengan getah pohon ipuh atau pohon iren. Dalam kesenyapan, mereka beraksi melepaskan anak sumpit yang disebut damek.
Mandau Senjata Khas Dayak
Pada jaman dulu jika terjadi peperangan, suku Dayak
pada umumnya menggunakan senjata khas mereka, yaitu mandau. Mandau merupakan
sebuah pusaka yang secara turun-temurun yang digunakan oleh suku Dayak dan
diaanggap sebagai sebuah benda keramat. Selain digunakan pada saat peperangan
mandau juga biasanya dipakai oleh suku Dayak untuk menemani mereka dalam
melakukan kegiatan keseharian mereka, seperti menebas atau memotong daging,
tumbuh-tumbuhan, atau benda-benda lainnya yang perlu untuk di potong.
Sandung Ngabe Sukah
Sandung Ngabe Sukah terletak di Kecamatan Pahandut
berupa sebuah makam pendiri Kota Palangka Raya dengan makamnya yang berbentuk
rumah kecil (sandung). Sandung merupakan sebuah bangunan kecil persegi panjang
beratap, bertiang terbuat dari kayu ulin / beton, tempat menyimpan tulang
belulang orang yang telah meninggal (setelah ditiwahkan).
Sandung didirikan di
Bukit Pahandut, di belakang rumah Ngabe Sukah (seorang tokoh yang disegani di
desa Pahandut, dan sebagai Kepala Desa yang pertama, dibawah Kademangan Sawang,
sekitar tahun 1928).
Suku Aborijin dengan Dayak Kuno
Penduduk asli Australia yang disebut Aborijin,
mungkin tidak pernah mengira apabila nenek moyang mereka sekitar 10.000 tahun silam
pernah mengembara di rimba belantara hutan Kalimantan.
Perkiraan itu timbul
berkat penemuan lukisan kuno berusia 10.000 tahun di gua batu di pedalaman
Kalimantan Timur, belum lama ini. Penemuan lukisan kuno berusia 10.000 tahun
itu sangat berarti bagi ilmu pengetahuan dan penelitian yang agaknya
memunculkan teori kronologis pemukiman manusia. Aborijin telah mengembara dari
rimba Kalimantan menuju "Negeri Kanguru". Penemuan penting bagi
asal-usul peradaban manusia itu berkat kerja sama Tim Survei Prancis-Indonesia
yang didanai oleh salah satu perusahaan minyak dan gas bumi (migas) terbesar di
Asia, yakni perusahaan kontraktor bagi hasil (KPS) Pertamina, TotalFinaElf.Asal Mula Sungai Barito
Pada zaman dahulu, di sebuah tumpung (desa sangat
kecil, hanya dihuni beberapa kepala keluarga) di daerah ngaju, tinggal seorang
janda dengan dua orang anaknya. Anak yang tertua bernama Patih Laluntur, sedang
yang seorang lagi bernama Patih Sasanggan.Dikarenakan usia yang telah lapuk dimakan waktu,
sang ibu meninggal dunia, sehingga tingga...llah dua orang kakak beradik yang
sudah menginjak usia remaja. Keduanya hidup rukun, sampai tumbuh menjadi pemuda
dewasa.
Beranjak dari keinginan untuk mengubah pola hidup
mereka yang sangat sederhana di tumpung, disertai keinginan untuk memperbaiki
taraf kehidupan, serta keinginan menimba pengalaman di daerah luar, Patih
Laluntur dan Patih Sasanggan sepakat untuk meninggalkan gubug mereka di
tumpung.
Dengan bekal seadanya, kedua kakak beradik itu
berangkat mengembara, tanpa tahu arah yang mesti dituju.
Gara-gara Bersetubuh di pantai Kalap
Pantai Kalap yang angker itu dipercaya berpenghuni makhluk halus yang bisa diajak berkolaborasi dengan manusia. Salah satunya untuk mendapatkan anak. Caranya, dengan bersetubuh di areal pantai tersebut. Kisah mistis berikut ini salah satu contohnya....
Ini benar-benar aneh, tapi nyata. Sepasang suami isteri muda terpaksa harus kehilangan anaknya karena digondol makhluk gaib. Ini terjadi gara-gara mereka lupa akan nazarnya. Kisah ini dialami suami isteri yang tinggal di daerah Samuda, Kec. Hanau, Kab. Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Bagaimana kisah mistisnya? Berikut penuturan keluarga pelaku kepada Penulis....
Jauhari namanya. Pria ganteng yang bekerja di kantor swasta ini menikahi seorang dara cantik bernama Ida. Namun hingga beberapa tahun usia perkawinan mereka belum juga dikaruniai anak. Padahal mereka begitu mendambakan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga mereka.
PANGLIMA KUMBANG HANYA NAMA PANGGILAN
Bagi masyarakat Dayak gelar Pangkalima (baca Panglima-red) bukanlah gelar sembarang gelar. Seseorang yang menyandang gelar Pangkalima adalah sosok yang di anggap terpandang di masyarakat karena memiliki kelebihan dan selalu menjadi pelindung masyarakat Dayak. Seroang Pangkalima juga jarang mau menampakan diri di masyarakat sebagai seorang Pangkalima melainkan sebagai rakyat biasanya, makanya ada beberapa Pangkalima yang masih misterius keberadaannya. Sosok Pangkalima selalu di gambarkan sebagai seorang yang sederhana dan bersahabat dengan semua orang.
Langganan:
Postingan (Atom)




