Kamis, 04 Juni 2015

SANAMAN MANTIKEI


Dahulu kala di dusun Kaleka Nusa Kuluk Riam Habambang, sebelah kiri mudik sungai Samba, hiduplah satu keluarga petani. Petani itu mempunyai seorang anak laki-laki bernama Tinjau. Pada suatu hari Tinjau pergi untuk mengantarkan makanan kepada ibu bapaknya di lading. Di tengah jalan, sekonyong-konyong Tinjau melihat seorang yang mirip ayahnya. Orang itu lalu mengajaknya berjalan ke suatu arah. Tinjau menurut saja, karena dirasanya tak salah mengikuti ayahnya sendiri. Mereka berdua berjalan terus hingga tiba pada sebuah jalan yang lebar dan bersih. Akhirnya sampai di sebuah betang (rumah panjang tradisional suku Dayak).
Di dalamnya banyak orang berkumpul. Mereka lalu naik ke dalam betang itu. 

Gambar : Desa di Sanaman Mantikei

Seorang tetua dari sekalian itu berkata kepada orang yang mirip ayah Tinjau : “Dari mana kau dapat anak manusia ini ? Bagaimana kalau diketahuinya rahasia pekerjaan kita ini tak boleh dilihat mahluk lain, apalagi manusia.” “Anak ini kutemukan di ujung jalan rumahku, sebelum mencapai jalan desa kita ini. Tiba-tiba saja ia terlihat olehku dan ia pun melihatku pula. Untunglah sempat kuubah wajahku, menyamar jadi ayahnya. Mungkin ia mata-mata manusia yang ditugaskan mengintai pekerjaan kita. Aku bergegas hingga kubawa saja ia kemari. Terserah ketua mengambil tindakan padanya,” jawab orang yang mengajak Tinjau tadi. 

Ketua dari orang halus itu berkata lagi : Anak manusia ini jangan dibiarkan bebas begitu saja. Nanti ia lari diceritakannya perihal segala perbuatan kita. Coba tutup ia dengan garantung (gong) besar.” Tinjau lalu disekap di bawah sebuah garantung. Ia menyadari bahwa dirinya diculik mahluk halus. Untung saja papan lantai di bawah garantung itu tidak rata. Kalau tidak ia bias mati lemas kehabisan napas. Setelah Tinjau disekap, mulailah mereka itu berunding mengatur pembagian kerja pada esok hari yakni membuat peralatan untuk melebur batu menjadi sanama mantikei (besi sejati atau murni). Orang tuanya heran mengapa Tinjau hari ini tidak dating mengantar makanan seperti biasanya. Merasa lapar keduanya terpaksa pulang ke rumah. Ternyata Tinjau tidak ada di sana. Seluruh keluarga dan orang sekampung turut mencari kesana kemari. Tetapi semuanya sia-sia saja. Tinjau hilang bagai ditelan bumi. 

Bermacam dugaan mereka lontarkan. “Apakah kau lihat segala perbuatan kami ?” Tanya ketua mereka. Memang Tinjau seorang anak yang cerdik, ia lalu menyahut : “Ya. Saya lihat semua perbuatan kalian dengan jelas.” Ketua mahluk halus itu berkata : “Kalau begitu coba tutup dia dengan rakung (bakul besar terbuat dari kulit kayu).” Tinjau lalu ditutup oleh mereka dengan rakung. “oh,” kata Tinjau, “jangan tutup aku dengan rakung sebab dapat kulihat apa perbuatan kalian.” “Kalau begitu coba dengan pangalau (sejenis bubu penangkap ikan dari rotan dianyam jarang), agar ia tak melihat pekerjaan kita,” kata ketua hantu itu. Tinjau berteriak : “Ampun ! Janganlah kalian tuutp aku dengan pengalau ini. Aku menjadi buta dan tuli sama sekali.” Mahluk-mahluk halus itu tertawa terbahak-bahak gembira, sebab Tinjau tak dapat melihat segala perbuatan mereka. 

Alat yang mereka buat itu adalah alat sebagaimana yang masih dipergunakan pandai besi tradisional hingga kini di daerah Kalimantan Tengah. Menurut pendapat mereka untuk mempercepat peleburan batu menjadi besi itu, sekeliling baknya dipancangkan tiga buah patung dari tanah liat dengan bentuk tertentu. Kepala berbentuk ikan, ekornya halus berbentu kerbau. Kalau kepalanya bunglon, ekornya harus berbentuk ikan serta bila kepalanya babi ekornya mesti berbentuk buaya. Dari percakapan mereka terdapat beberapa persyaratan dalam pekerjaan itu antara lain tidak boleh dilihat atau ditegur kaum wanita, beolok- olok atau berbicara kotor dan bertengkar. Selain itu hatus dekat dengan air dan ada dahan kayu yang sedang tingginya. Dua syarat terakhir erat kaitannya dengan teknis peralatan. Mengenai jenis batuannya adalah batuan yang ada didalam tanah.

 Tiga hari tiga malam lamanya Tinjau memperhatikan kerja mereka itu mulai dari membuat peralatanya, melebur batuan menjadi besi serta menempanya menjadi senjata dan peralatan. Saking sibuknya mereka bekerja, sampai lupa kepada Tinjau. Hingga dapatlah ia melepaskan dirinya pulang ke rumah. Gembiralah keluarganya serta seisi kampung dengan kepulangan Tinjau. Mereka tercengang mendengar ceritanya, apalagi menyangkut pengolahan besi yang pada masa itu belum diketahui oleh orang. Beberapa tahun kemudian Tinjau mengajak keluarganya mengerjakan sanaman mantikei seperti dilihatnya di kampong mahluk halus dahulu. Mereka mengerjakannya lebih baik sebab peralatannya cukup sempurna dengan hasil yang memuaskan pula. Bekas pengolahan sanaman mantikei ini terlihat disebelah kanan mudik sungai Mantikei, sungai Manten danKaleka Nusa Kuluk Riam Habambang. 

Sanaman Mantikei memiliki sifat yang lebih lunak tapi tajam dan senjata yang dibuat dari bahan ini mudah dibengkokkan. Batuan yang mengandung sanaman mantikei hanya dijumpai di sungai Mantikei, mencarinya dengan jalan digali dari dalam tanah. Karena terkenalnya besi ini, hingga sekarang daerah sepanjang sungai samba dinamakan kecamatan Sanaman Mantikei.