Jumat, 01 Mei 2015

Datu Ayuh, Tingkai dan Badil



Masuknya Islam ke daerah Kotabaru yang datarannya menyatu dengan pulau Kalimantan.Masuknya Islam ke daerah itu diperkirakan tahun 1570. Konon, Sultan Tamjidillah dari Martapura memiliki anak yang bernama Ratu Intan. Ratu Intan inilah yang kemudian memasuki daerah Pamukan Utara hingga memiliki daerah kekuasaan di sana.Sebelumnya, agama Hindu-Budha sudah lebih dahulu sampai di daerah itu. Agama ini dibawa oleh dua kakak beradik bernama Tingkai dan Badil. Tingkai dan Badil ialah dua pemuda yang diam di daerah Kalteng. Karena merasa bosan, mereka lalu bertualang ke daerah Jawa, mempelajari gamelan, hingga pulang lagi ke Kalteng dan berniat pergi ke tempat lain.

Mereka menebang pohon yang jatuh ke pinggir sungai dan arahnya ke Kalimantan Tenggara. Semenjak itu mereka bertolak dan sampai di daerah Pamukan Utara. Di daerah ini mereka mendirikan 40 balai berupa macam-macam bentuk, bisa berwujud batu maupun pohon. Konon sekarang sudah ditemukan lebih dari 20 balai.

Sesudahnya kedatangan mereka pula, berkembang cerita tentang dukun yang sedang melakukan Balian (upacara adat). Saat Balian dilangsungkan ada yang tertawa dalam rumah. Karena merasa tersinggung, maka didoronglah rumah itu oleh sang dukun. Maka baik rumah maupun orang-orang yang didalamnya, mereka yang tidak sempat lari, berubah menjadi batu.

Di masa sebelum islam pula berkembang cerita Datu Pujung dan Datu Ayuh. Datu Pujung menguasai wilayah Kotabaru Selatan, sementara Datu Ayuh menguasai bagian Utara. Datu Ayuh sekarang dipercaya muksa (menghilang). Semasa hadirnya, Datu Ayuh ialah seseorang yang ditakuti karena kesaktiannya.

Sewaktu gotong royong diadakan, Datu Ayuh hanya tidur. Ia pun dipinta penduduk untuk ikut menselesaikan atap dengan mengumpulkan Daun Nipah. Maka pergilah Datu Ayuh dan kembali membawa seikat Daun Nipah dengan lebar hanya sepergelangan tangan orang dewasa. Namun setelah ikatannya dibuka, daun itu langsung berlimpah-limpah banyaknya. Masa-masa itu dipercaya kalau penduduk sekitar masih menganut agama Hindu atau Kaharingan.

Sayang, sebagaimana cerita Pak Syukri, tidak ada data hingga bukti bangunan fisik atau tulisan-tulisan yang mendukung. Jadi apa yang diceritakan oleh pak Agits hanya sekadar mulut ke mulut. Namun sebagai pendukung legenda itu, Ratu Intan memang disemayamkan di daerah tepi sungai Bakau, Kecamatan Pamukan Utara, yang berjarak 263 km dari Kotabaru.