Jumat, 15 Mei 2015

KOTA KUALA KAPUAS



Sebagai salah satu kota tertua di Kalimantan Tengah. Pada awal terbentuknya Kabupaten Kapuas, merupakan salah satu eks daerah dayak besar dan swapraja kota Waringin yang termasuk dalam wilayah karesidenan Kalimantan Selatan, dengan penduduk asli Suku Dayak Ngaju, yang terdiri dari dua sub suku yaitu Suku Kapuas Kahayan dan Suku Ot Danum (oldaman) yang bermukim disebelah kanan kiri sungai Kahayan, serta Suku Kapuas Kahayan bermukin disamping kanan kiri Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan antara hilir sampai tengah, sedangkan ot danum (oldaman) bagian hulu dari kedua sungai tersebut.


Penyebaran pemukiman di sepanjang tepi Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan tersebut tidak diketahui secara pasti kapan mulainya, karena tidak ada peninggalan baik berupa tulisan maupun barang jadi (artfakta) yang dapat dijadikan dasar, sehingga sekitar abad 14 dalam naskah Nagarakertagama yang ditulis oleh Pujangga Prapanca dari Majapahit dari tahun 1365 Masehi, menyebutkan adanya pemukiman tersebut, kemudian dalam Naskah Hikayat Banjar, berita Tionghoa pada masa dinasti Ming tahun 1368 - 1644 Masehi dan Piagam-piagam perjanjian antara sultan Banjarmasin dengan pemerintah Belanda pada abad 19 yang memuat berita adanya pemukiman di sepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan yang disebut pemukiman Lewu Juking, yang pada saat ini dikenal dengan Ujung Murung.
Lewu Juking/ Ujung Murung merupakan sebuah pemukiman rumah panjang yang terletak di dekat muara Sungai Kapuas Murung, atau tepatnya bagian barat daerah Pulau Petak yang bermuara di Laut Jawa, sekitar 10 kilometer dari arah pesisir laut Jawa, dan daerah pemukiman ini cukup banyak bersama dengan pemukiman lainnya, yang tersebar sampai ke arah Muara Terusan, dengan jumlah penduduk sekitar 1000 kepala Keluarga, Pemukiman Lewu Juking/ Ujung murung dan pemukiman disekitarnya pada masa itu di pimpin oleh seorang Kepala Suku bernama Raden Labih.
Akibat merasa kurang amannya kehidupan penduduk Lewu Juking dan masyarakat disekitarnya dari bajak laut, maka pada tahun 1800 banyak penduduk pindah tempat tinggal, sehingga dari perpindahan tersebut disepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung, pemukiman Palangkai diseberang Sungai Tatas, pemukiman Sungai Handiwung, pemukiman Sungai Apui, Pemukiman Pulau Telo, pemukiman Sungai Bapalas, pemukiman Sungai Kanamit dan pemukiman Betang di Sei Pasah sekaligus merupakan satu-satunya bukti sejarah di kota Kuala Kapuas yang masih ada, dalam perkembangan selanjutnya dijadikan sebagai tonggak sejarah berdirinya kota Kuala Kapuas pada tahun 1806.
Pada bulan Oktober tahun 1892 tepatnya 20 tahun setelah pemukiman Betang Sei Pasah dibangun, orang Belanda yang pertama kali datang menginjak kakinya di bumi Kapuas menurut catatan sejarah Zacharis Hartman. Dalam perjalanan kerja pada masa itu menggunakan trasportasi perahu dayung untuk menjelajahi Sungai Kapuas Murung dan Sungai Kapuas sampai ke Jangkang.
Dalam perkembangan sejarah berikutnya hubungan Orang Kapuas dengan Orang Belanda identik dengan hubungan peperangan, dan menyikapi kondisi tersebut, dalam rangka mengawasi lalu lintas perairan di kawasan Kapuas, pada bulan Februari tahun 1860 pihak Belanda membangun benteng di Ujung murung (sekitar rumah jabatan Bupati saat ini), dan tempat tersebut dinamakan Kuala Kapuas. Nama Kuala Kapuas di ambil dari bahasa dayak ngaju yaitu bahasa yang digunakan penduduk setempat, yang menyebut daerah tersebut Tumbang Kapuas. Pada daerah ini Belanda Mengangkat seorang pejabat dalam pangkat Pemangku Kuasa yang bernama Brosers merangkap sebagai komandan benteng,. Disamping pejabat Pemangku Kuasa, Tamanggung Nicodemus Ambu atau Tamanggung Nikodemus Jatanegara di tunjuk sebagai kepala distrik, dan pada bulan Maret 1863 Tamanggung Nikodemus Jayanegara membangun betang di Hampatung.
Dalam rrangka memantapkan kekuasaan Belanda di wilayah Kalimantan, daerah Kapuas dimekarkan membentuk Onderdistri Baru, yaitu Onderdistri Kapuas Hilir Ibukota Kuala Kapuas, Onderdistri Kapuas Barat beribukota Mandomai, Onderdistri Kapuas Tengah beribukota Pujon, Onderdistri Kahayan Tengah beribukota Pahandut, Onderdistri Kahayan Hilir beribukota Pulang Pisau dan Onderdistri Kahayan Hulu dengan ibukota tewah.
Pada tanggal 27 Maret 1946 di Banjarmasin dibentuk dewan daerah dayak besar yang pertama, yaitu suatu badan pemerintah daerah yang meliputi apdeling Kapuas-Barito dan di pilih sebagai ketua adalah Grineveld (eks asisten residen), Wakil Ketua Raden Cyrillus Kesranegara dan Sekretaris adalah Mahir Mahar.
Pada tahun 1948 diadakan pemilihan anggota dewan dayak besar dalam sistem bertingkat yaitu setiap 100 orang pemilih menunjuk seorang kepala pemilih, yang secara langsung memberikan suaranya terhadap calon yang diajukan, dan yang terpilih sebagai ketua Haji Alwi, wakil Ketua Helmut Konom, Sekretaris Roosenshooen, Anggota badan pengurus harian Markasi dari Sampit, Barthhleman dari Barito, Adenan Maratif dan E.D Tandan dari Kapuas.
Pada bulan januari 1950 dewan daerah dayak besar resmi bergabung dalam wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi daerah bagian dari Republik Indonesia Serikat, tetapi situasi saat itu rakyat menghendaki suatu negara kesatuan, bukan Negara Federasi hasil kompromi pihak Belanda, menyikapi hal tersebut maka pada tanggal 14 April 1950 atas dasar tuntutan rakyat tersebut dan untuk memenuhi aspirasi rakyat, maka pihak dewan dayak besar menentukan sikap peleburan diri secara resmi kedalam Negara Republik Indonesia. Sebagai mana diatur dalam surat keputusan menteri dalam negeri nomor : C.17/15/3 tanggal 29 Juni 1950 tentang penetapan daerah-daerah di Kalimantan yang sudah tergabung dalam Republik Indonesia dengan adminidtrasi Pemerintah terdiri dari 6 daerah kabupaten yaitu banjarmasin, Hulu Sungai, Kota Baru, Kapuas dan Kota Waringin serta 3 daerah Swapraja yaitu Kutai, Berau dan Bulungan.
Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, pada akhir tahun 1950 Kepala Kantor Persiapan Kabupaten Kapuas Wedana F. Dehen memasuki masa pensiun dan selanjutnya diserahkan kepada Mrakasi yaitu mantan anggota dewan daerah Dayak besar pada saat itu. Selanjutnya pada bulan Januari 1951 Markasi diganti oleh Patih Barnstein Baboe sebagai Bupati sementara saat itu,dan pada masa inilah Kabupaten Kapuas di resmikan tepatnya pada hari Rabu tanggal 21 Maret 1951 oleh Menteri Dalam Negeri dan sekaligus melantik para anggota Dewan Rakyat daerah sementara yang terdiri dari wakil partai politik dan organisasi non-politik dari Masyumi, Parkindo, PNI, Muhammadiyah dan lainnya.
Pada awal Mei 1951 Raden Darussapati diangkat selaku Bupati Kepala Daerah Kabupaten Kapuas yang pertama, dan dilantik pada tanggal 9 mei 1951 oleh Gubernur Murjani atas nama Menteri Dalam Negeri. Sehingga oleh masyarakat Kabupaten Kapuas setiap tanggal 21 Maret dinyatakan sebagai hari jadi Kabupaten Kapuas yang bertepatan dengan peresmian Pemerintah Kabupaten Kapuas.
Berkat usaha dan perjuangan rakyat Kuala Kapuas bersama-sama dengan rakyat daerah lainnya pada saat itu, maka lahirlah Undang-undang No. 27 tahun 1959 tentang pembentukan daerah tingkat II Kalimantan Tengah dan Undang-undang Nomor 5 tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Timur.
Sesuai dengan perkembangan Kabupaten Kapuas dimekarkan menjadi tiga Kabupaten, yaitu Kabupaten Kapuas sebagai Kabupaten induk dengan Ibukota Kuala Kapuas, Kabupaten Pulang Pisang Pisau dengan Ibukota Pulang Pisau dan Kabupaten Gunung Mas Ibukota Kurun.
Kota Kuala Kapuas berdiri sejak tahun 1806 , namun Pemerintahan Kabupaten Kapuas berdiri sejak tahun 1951. Kemudian sejak tahun 2002 Kabupaten Kapuas mengalami pemekaran menjadi 3 (tiga) kabupaten yakni Kabupaten Kapuas , Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Gunung Mas (saat ini masuk wilayah hukum PN. Palangkaraya)
Batas-batas Wilayah :
1.       
o    Disebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Gunung Mas.
o    Disebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan propinsi Kalimantan Selatan.
o    Disebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Barito Utara dan Barito Selatan.
o    Disebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pulang Pisau, Kota Madya Palangka dan Kabupaten Kota Waringin Timur.
Pembagian Wilayah :
Daerah Kabupaten Kapuas terdiri 12 Kecamatan dan terdiri dari desa (kampung) dengan pembagian sebagai berikut :
Kecamatan Selat dengan ibu kotanya :
Kuala Kapuas terdiri dari 12 buah desa.
Kecamatan Kapuas Hilir dengan ibu kotanya : Barimba terdiri dari 6 buah desa.
Kecamatan Kapuas Timur dengan ibu kotanya : Anjir Serapat terdiri dari 6 buah desa.
Kecamatan Kapuas Kuala dengan ibu kotanya : Lupak terdiri dari 6 buah desa.
Kecamatan Pulau Petak dengan ibu kotanya : Sei Tatas terdiri dari 8 buah desa.
Kecamatan Kapuas Murung dengan ibu kotanya : Palingkau terdiri dari 10 buah desa.
Kecamatan Basarang dengan ibu kotanya : Basarang terdiri dari 13 buah desa.
Kecamatan Kapuas Barat dengan ibu kotanya : Mandomai terdiri dari 9 buah desa.
Kecamatan Mantangai dengan ibu kotanya : Mantangai terdiri dari 9 buah desa.
Kecamatan Kapuas Tengah dengan ibu kotanya : Pujon terdiri dari 18 buah desa.
Kecamatan Timpah dengan ibu kotanya : Timpah terdiri dari 9 buah desa.
Kecamatan Kapuas Hulu dengan ibu kotanya : Sei Hanyo.
Daerah Kabupaten Pulang Pisau merupakan Kabupaten pemekaran dan Kabupaten Induk yaitu Kabupaten Kapuas. Terdiri dari 8 Kecamatan dengan pembagian sebagai berikut :
1.      Kecamatan Kahayan Hilir dengan ibu kotanya : Pulang Pisau.
2.      Kecamatan Pandih Batu dengan ibu kotanya : Pangkoh.
3.      Kecamatan Kahayan Kuala dengan ibu kotanya : Bahaur.
4.      Kecamatan Jabiren dengan ibu kotanya : Jabiren.
5.      Kecamatan Maliku dengan ibu kotanya : Maliku.
6.      Kecamatan Kahayan Tengah dengan ibu kotanya : Bukit Rawi.
7.      Kecamatan Banama Tingang dengan ibu kotanya : Bawan.
8.      Kecamatan Sebangau dengan ibu kotanya : Sebangau.

Demikianlah Sejarah berdirinya Kota Kuala Kapuas di Kalimantan Tengah (Kalteng).